.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Keutamaan Air Zamzam



   Para sejarawan sepakat bahwa Zamzam adalah minuman Ismail AS dan ibunya. Akan tetapi, mereka sedikit berbeda pendapat mengenai sebab munculnya air itu.
   Sebagian berpendapat bahwa Ibrahim AS datang membawa Hajar dan 
anaknya yang sedang menyusui. Lalu dia meninggalkan mereka dengan sedikit air.
   Ketika air mereka itu habis, Hajar meninggalkan anaknya dan dia mulai berjalan hingga mencapai puncak bukit Shafa, lalu bergegas menuju ke puncak bukit Marwa, kalau-kalau dia melihat seseorang untuk dimintai bantuan.
   Hajar melakukan hal itu sebanyak tujuh kali, dan dari tindakannya itulah disunahkan sa’i (berlari kecil) antara Shafa dan Marwa.
   Menurut cerita ini, Ismail mulai menjerit-jerit dan menggaruk-garuk tanah dengan kedua kakinya. Lalu Allah mengalirkan air di bawah kakinya. Dan ketika Hajar tidak melihat seorang pun dan mengkhawatirkan anaknya dari serangan binatang buas, dia kembali kepada anaknya. Tiba-tiba, air itu menyembur dari bawah kedua kakinya, lalu Hajar pun mulai membatasinya seraya berkata, “Zamzam (berkumpullah)!”
   Sedangkan cerita yang lain mengatakan, semula Sarah (istri Ibrahim) mengalami kemandulan, dan dia mempunyai seorang budak wanita. Kemudian budak itu dihibahkan kepada Ibrahim dengan syarat dia tidak menyakiti hatinya. Berikutnya, budak itu (Hajar) mengandung dan melahirkan Ismail. Demikian pula Sarah, dia melahirkan Ishak.
   Setelah keduanya berangkat remaja, keduanya saling berlomba. Dan Ismail memenangkan perlombaan itu, lalu ayahnya memeluknya sebagai tanda kerelaan (rida). Kemudian Sarah berkata, “Engkau tahu bahwa aku mensyaratkan kepadamu agar tidak menyakiti hatiku karenanya, dan apa yang aku lihat telah menyakitkan hatiku, maka keluarkanlah dia dariku.”
   Karena Ibrahim seorang Nabi utusan (Tuhan) yang mengetahui tempat Baitul Haram, dia membawa anaknya Ismail bersama ibunya dan menempatkan mereka di dekat Baitullah, lalu dia pergi meninggalkannya.
   Namun, tiba-tiba naluri kebapakannya muncul, dan ia pun berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya, Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37).
   Berikutnya ketika persediaan air mereka telah habis, Hajar berkata, “Anakku, menjauhlah dariku agar aku tidak melihatmu mati, dan begitu pun engkau tidak melihatku mati.”
   Maka keduanya berpisah. Tetapi kemudian turunlah Jibril AS. Dia mengibaskan sayapnya ke bumi dan memancarlah air. Kemudian Hajar bergegas mengumpulkannya.
   Dalam konteks ini seorang penyair berkata, “Dia terus-menerus membuat wadah-wadah untuk menampungnya. Sebab, jika dia tidak melakukannya niscaya air itu akan mengalir ke mana-mana.”
Lalu seiring dengan perubahan zaman, Zamzam menjadi kian menua dan meredup, hingga suatu saat di mana Allah SWT berkenan membangkitkannya kembali melalui tangan Abdul Muthalib, kakek Rasulullah SAW, yang kemudian menggalinya.
   Dalam konteks ini, Shafiyah binti Abdul Muthalib berkata, “Kami telah menggali Zamzam minuman Nabi Allah, di Tanah Suci yang dihormati untuk para jamaah haji. Dia hasil kibasan Jibril, yang tak pernah berhenti mengalir.”
   Mengenai Zamzam ini, Wahb bin Munabbih pernah berujar, “Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh dia di dalam Kitab Allah adalah dijamin, sungguh dia di dalam Kitab Allah adalah anugerah (pemberian), sungguh dia di dalam Kitab Allah adalah minuman orang-orang baik, dan sungguh di dalam Kitab Allah dia adalah makanan dan obat penyakit.”
   Ibnu Khutsaim mengatakan bahwa Wahb bin Munabbih datang kepadanya, lalu mengeluh sakit. Maka dia pun men­jenguknya, ternyata di sisinya terdapat air Zamzam. Ibnu Khutsaim berkata kepada Wahb, “Sebaiknya engkau minta air yang segar, sebab air (Zamzam) itu sedikit kental.”
   Wahb menjawab, “Aku tidak mau minum air yang lain, demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh dia (Zamzam) di dalam Kitab Allah adalah Zamzam, yang tidak pernah habis dan tidak pula kering. Sungguh dia di dalam Kitab Allah adalah anugerah, minuman orang-orang baik. Sungguh dia di dalam Kitab Allah adalah dijamin, dan sungguh dia di dalam Kitab Allah adalah makanan yang mengenyangkan dan obat yang menyembuhkan penyakit. Dan demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, setiap orang yang mendatanginya lalu meminumnya hingga kenyang, niscaya akan lenyap penyakitnya dan datanglah kesembuhannya.” (Akhbar Makkah Lil Azraqy: 11/49-50).
   Jabir juga menceritakan dari Nabi SAW bahwa air Zamzam itu sesuai dengan tujuan meminumnya. Abi Thufail menceritakan bahwa dia pernah mendengar Ibnu Abbas berkata, “Dahulu pada masa jahiliyah ia (Zamzam) dijuluki syabba’ah (yang banyak mengenyangkan), dan diyakini bahwa ia adalah sebaik-baik penolong bagi keluarga.” (Al-Azraqy: II/ 52-5S).
   Ibnu Abbas berkata, “Shalatlah kamu di tempat shalat orang-orang pilihan, dan minumlah dari minuman orang-orang baik.” Lalu Ibnu Abbas ditanya, “Manakah tempat shalat orang- orang pilihan itu?” Dia menjawab, “Di bawah mizab.” Dan dia ditanya pula, “Lalu apakah minuman orang-orang baik itu?” Dia mengatakan, “Air Zamzam.” (Al-Azraqy: 11/52-53).
   Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Abu Dzar pernah mengatakan Rasulullah SAW bersabda, “Ketika aku berada di Makkah, tiba-tiba atap rumahku terbuka dan turunlah Jibril AS yang kemudian membuka dadaku dan mencucinya dengan air Zamzam.”
   “Kemudian dia membawa mangkuk besar terbuat dari emas yang penuh dengan hikmah dan iman, lalu dia menumpahkannya ke dalam dadaku dan menutupnya kembali. Selanjutnya, dia memegang tanganku dan membawaku mi’raj (naik) ke langit dunia (terdekat). Jibril berkata kepada malaikat penjaga langit dunia, “Bukalah!” Malaikat itu bertanya, “Siapa ini?” Dia menjawab, “Jibril.” (HR. Bukhari: 11/303).
Diceritakan dari Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah SAW pernah datang ke tempat minum (baca: sumber air) lalu beliau minta diberi minum. Kemudian Al-Abbas berkata, “Hai Fadl, pergilah ke tempat ibumu dan mintalah minuman untuk Rasulullah SAW.”
   Tetapi beliau bersabda, “Beri aku minum.” Al-Abbas berkata, “Ya Rasulullah, sungguh mereka telah memasukkan tangan mereka ke dalamnya.” Beliau bersabda lagi, “Beri aku minum.”
   Kemudian beliau pun minum dari air itu, lalu mendatangi Zamzam sementara mereka tengah mengambil air dan bekerja di dalamnya. Selanjutnya beliau bersabda, “Bekerjalah kamu sekalian, sebab kamu melakukan amal saleh. Seandainya kalian tidak akan kalah, niscaya aku akan turun dan akan aku letakkan tali di sini beliau menunjuk kepada pundaknya.” (HR. Bukhari: 11/303).
   Anas bin Malik RA mengatakan bahwa Jibril AS pernah mendatangi Rasulullah SAW ketika beliau tengah bermain bersama anak-anak. Lalu dia mengambilnya dan membuatnya pingsan, kemudian dia mengeluarkan hati, membelahnya, dan mengeluarkan segumpal darah dari dalamnya, seraya berkata, “Ini adalah bagian setan dari dirimu.” Selanjutnya dia mencucinya dengan air Zamzam, lalu memperbaikinya, kemudian mengembalikannya lagi ke tempatnya. (Al-Fakihy: 1/25).
   Anas bin Malik pernah bercerita tentang malam di mana Rasulullah SAW dibawa dari Masjidil Haram. Tiga orang mendatangi beliau lalu mereka membawanya dan meletakkannya di sisi sumur Zamzam. Kemudian beliau diurus oleh Jibril AS dan Jibril pun membelah bagian atas hingga bagian bawah leher beliau. Selanjutnya dia membuka dada dan perut beliau, kemudian mencucinya dengan air Zamzam dan membersihkan perut beliau dengan tangannya. Berikutnya disediakan sebuah mangkuk besar yang di dalamnya terdapat sebuah cangkir yang penuh oleh iman dan hikmah, lalu dia menuangkannya ke dalam dada, perut, dan tenggorokan beliau, kemudian menutupnya kembali. (Al-Fakihy: 1/26).
   Ibnu Abbas RA mengatakan sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda, “Suatu tanda yang memisahkan antara kita dengan orang-orang munafik adalah bahwa mereka tidak bisa kenyang dari air Zamzam.” (Al-Fakihy: 1/28).
   Ibnu Abbas juga menambahkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sakit panas (demam) berasal dari luapan api jahanam, maka dinginkanlah dengan air Zamzam.”
Mujahid meriwayatkan, dahulu kami pernah bepergian ke tanah Romawi, lalu kami menginap di tempat seorang rahib. Dia kemudian bertanya, “Apakah di antara kalian ada seorang penduduk Makkah?” Aku berkata, “Ya.”
   Dia bertanya, “Berapakah jarak antara Zamzam dan hijr?” Aku berkata, “Aku tidak tahu, kecuali jika aku mengukurnya dengan hati-hati.” Dia berkata, “Tetapi aku mengetahuinya, sesungguhnya ia mengalir dari bawah hijr, dan seandainya aku mempunyai semangkuk air Zamzam, itu lebih aku sukai daripada emas sebanyak itu.” (Al- Fakihy: 1/37-38).
   Abu Thufail menceritakan dari Nabi SAW, sabdanya, “Sebaik- baik air di muka bumi ini adalah air Zamzam, dan seburuk- buruk air di muka bumi ini adalah air barhut.” (Al-Fakihy: 11/40).
   Menurut Ibnu Abbas RA, dia pernah melihat seorang pria hendak minum dari air Zamzam, kemudian dia bertanya, “Tahukah engkau bagaimana seharusnya air itu diminum?”
   Pria itu menjawab, “Lalu bagaimanakah seharusnya aku meminum air Zamzam itu wahai Abu Abbas?”
Dia menjawab, “Apabila engkau hendak minum dari air Zamzam, ambillah satu timba darinya kemudian menghadaplah ke arah kiblat, dan ucapkan bismillah. Lalu reguklah dengan bernapas sebanyak tiga kali sehingga engkau kenyang, dan ucapkanlah Allahumma inni as’aluka ‘ilman nafi’an, wa rizqan wasi’an, wa syifa’an min kulli da’ (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang lapang, dan kesembuhan dan segala macam penyakit).” (Al-Fakihy: 11/41-42).
   Ali bin Abi Thalib RA mengatakan bahwa Allah Azza Wa Jalla akan memindahkan Zamzam di antara surga dan neraka. Maka apabila manusia telah menyeberangi shirath, mereka akan mendekat lalu minum.
“Keringat yang mereka keluarkan lebih harum dari aroma kesturi, sehingga di dalam dada tidak lagi tersisa kelicikan, kegelisahan, pengkhianatan, kedengkian, dan kebencian. Semuanya telah hilang bersama kotoran-kotoran badan, kemudian mereka pun memasuki surga.”
   “Lalu para malaikat menyambut mereka seraya berkata, ‘Salamun ‘alaikum thibtum fadkhuluha khalidin (Kesejahteraan atasmu, berbahagialah kamu! Maka masukilah, surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya).’ (QS. Az-Zumar: 73).
   “Kata thibtum maksudnya adalah telah hilang dari diri kamu bencana, penyakit, kedengkian, kebencian, kecurangan, kegelisahan, dan kelicikan.” (Al-Fakihy: 11/42).
   Abi Thufail mendengar Ali RA berkata, “Sebaik-baik lembah di kalangan manusia adalah lembah Makkah, dan suatu lembah di India di mana Adam AS diturunkan, dan dari sanalah didatangkan parfum yang kamu pergunakan. Dan seburuk-buruk lembah di kalangan manusia adalah lembah Ahqaf dan suatu lembah di Hadramaut yang disebut Baharut. Adapun sebaik-baik sumur di kalangan manusia adalah sumur Zamzam yang terletak di lembah Makkah. Sedangkan seburuk-buruk sumur adalah Baharut, yang terletak di lembah Baharut, yang di dalamnya terkumpul roh orang-orang kafir.” (Al-Fakihy: 11/47).
   Shafiyah binti Bahrah berkata, “Aku pernah melihat sebuah piring besar milik Ummi Hani’ binti Abi Thalib RA yang ditaruh di Masjidil Haram, lalu diisi dengan air Zamzam. Maka kala itu, apabila kami meminta makanan kepada keluarga (suami) kami, mereka menjawab, ‘Pergilah ke piring Ummi Hani.’ (Al- Fakihy: 11/43).
   Hisyam bin Urwah menceritakan dari ayahnya, bahwa Aisyah RA pernah memanggul air Zamzam, dan Rasulullah SAW pun pernah melakukan hal itu. (Al-Fakihy: 11/49).
   Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Dahulu para penduduk Makkah tidak pernah mengeluh akan lutut mereka. Mereka selalu menang dalam setiap perlombaan, dan selalu mampu merobohkan lawan dalam setiap pertarungan, sampai mereka enggan terhadap air Zamzam, hal mana akan menyebabkan mereka kehilangan semua itu.” (Al-Fakihy: 11/46).
   Al-Fakihy mengatakan hal ini terbukti secara riil pada saat sekarang di Makkah. Jabir bin Abdillah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah mengirim utusan kepada Suhail bin Amr untuk meminta air Zamzam. Kemudian Suhail mengirimkan air (Zamzam) kepada beliau. (Al-Fakihy: 11/46).
   Fadl bin Athiyah pernah melihat seorang pria bertanya kepada Atha’ seraya mengadu kepadanya tentang penyakit bawasir yang dideritanya. Lalu Atha’ menjawab, “Minumlah dari air Zamzam!” (Al-Fakihy: 11/64).
Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi SAW pernah bersabda, “Semoga Allah memberikan rahmat kepada ibu Ismail. Seandainya dia membiarkan Zamzam—atau seandainya dia tidak menciduk air—niscaya Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir.”
   Shafiyah binti Abdul Muththalib, bibi Rasulullah SAW, pernah berkata, “Kami telah menggali Zamzam untuk para jamaah haji sebagai penyembuh penyakit, sebagai makanan yang mengenyangkan, hasil kibasan Jibril yang kian membesar menjadi minuman Nabi Allah, putra kekasih Tuhan Yang Maha Mulia di Tanah Haram-Nya yang suci.” (Al-Fakihy: 11/11).

Sumber: Menguak Misteri Tempat-tempat Suci, Keutamaan Kota Makkah Oleh Atiq bin Ghaits Al-Biladi

jurnalhaji.com

0 komentar:

Post a Comment