.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

ANTAR AKU KE TANAH SUCI

biaya umroh
 Haji adalah ibadah yang paling lengkap dari seluruh ibadah mahdhah (ritual) yang ada dalam islam. Dalam haji terdapat, sudah jelas, ibadah fisik. Seseorang yang melakukan ibadah haji harus melakukan perjalanan yang begitu jauh dan melelahkan. Di Tanah Suci, rata-rata ibadah yang dilakukan menggunakan fisik, terutama berjalan kaki seperti thawaf, sa’I, melempar jumrah, ziarah, dan sebagainya. Ada juga ibadah lisan dimana harus seseorang harus selalu bertalbiyah ,
Aku penuhi panggilan-MU ya Allah, Aku penuhi panggilan Mu  ya Allah, tidak ada sekutu bagi-Mu ya Allah, sesungguhnya segala puji, nikmat, kekuasaan adalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-MU..” berzikir, berdoa, dan mengucapkan niat. Dalam ibadah haji hati juga harus selalu lurus, tertuju semata-mata karena Allah. Jadi lengkap, ada ibadah fisik, lisan dan hati. 
Haji, juga umrah, bagi sebagian besar kaum muslimin adalah dambaan. Sebuah cita-cita. Mereka berharap suatu ketika dapat menunaikan rukun islam kelima pergi ke Tanah Suci. Bagi yang pernah berhaji, pasti ingin berangkat lagi kesana apabila ada kesempatan. Padahal apabila kita saksikan mereka yang pergi haji, sepertinya berat dan susah. Apalagi yang sering kita liat, mereka yang menunaikan ibadah haji sudah usia tua. Maklumlah, karena berangkat haji  tidak sedikit memakan biaya maka danapun baru dapat terkumpul setelah usia tua. Belum lagi yang sakit karena badan tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. 
Tapi itulah sebuah cita-cita.orang akan melakukan apa saja demi apa yang ia cita-citakan. Haji, bagi kebanyakan orang merupakan suatu simbol keberhasilan spiritual. Sesuatu yang didapat dengan susah payah dan penuh perjuangan, terutama bagi mereka yang tidak  tergolong  kaya. Seseorang mengumpulkan hartanya sedikit demi sedikit, ditabung dan disimpan. Ia merela meninggalkan atau menunda keinginan bahkan kebutuhan yang lain asal dapat pergi haji, akhirnya Allah member kesempatan untuk pergi. Persiapanpun dilakukan jauh-jauh hari, satu tahun sebelumya. Perjalanan yang payah dan melelahkan, cuaca yang mungkin tidak bersahabat dengan fisiknya yang akhirnya pulang ketanah air dengan menyandang predikat “haji”. 
Memang agak aneh kalu dipikir-pikir, ada sebuah ibadah menjadi gelar. Seseorang yang pergi haji oleh masyarakat diberi gelar dan dipanggil “Pak Haji”. “Haji Fulan bin Fulan” atau hajah fulanah binti fulan, posisi mereka begitu dihormati dan disegani. Memahami betapa beratnya ibadah haji tentu wajar jika gelar tersebut disandangkan kepada mereka yang telah menunaikanya. Apalagi zaman dahulu belum ada pesawat terbang, jamaah haji pergi dengan kapal dan unta. Perjalanan memakan waktu dua bulan ( bandingkan dengan zaman sekarang menggunakan pesawat yang hanya 10-12 jam). Mereka yang pergi haji waktu itu belum tentu bisa pulang lagi karenaberatnya medan sehingga keluarganya seperti sudah merelakan bila tidak kembali. 
Orang yang telah menunaikan ibadah haji memang telah melewati serangkaian ujian-ujian. Mulai dari ujian fisik, seperti harus menempuh perjalanan dan menjankan manasik sampai ujian hati seperti lurusnya niat, kemampuan mengendalikan diri dan menjauhkan diri dari penyakit hati. Orang yang sudah berhajipun harus menjaga diri agar masyarakat tidak mempunyai persepsi yang buruk atasgelar hajinya. Demikian beratnya memperoleh dan menyandang gelar haji rasanya sepadan dengan pahala yang dijanjikanya. Rasulullah saw menyatakan,
Haji yang mabrur tiada balasanya yang tepat kecualisurga..” (HR Bukhari dan Muslim)
Mereka yang bersusah payahpun dalam mengumpulkan hartanya akan diganti Allah. Tidak ada cerita orang setelah haji miskin. Allah akan mengganti dana yang dipakai haji yang selama ini dikumpulkan dengan balasan yang berlipat ganda. Janji Allah tersebut tertuang dalam beberapa hadits Nabi saw, seperti 
Tidaklah orang yang berhaji itu akan miskin..”(HR ath-Thabrani dan Anas bin Abdullah)
“ Balasan atas biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan ibadah haji sebanding dengan balasan atas biaya yang dikeluarkan untuk perang dijalan Allah, satu dirham senilai dengan tujuh ratus dirham. (HR at-Thabrani dan Annas bin Malik)
“Seunggunya engkau akan mendapat pahala sepadan dengan kepayahan dan besarnya biaya yang engkau keluarkan. (HR al-Hakim)
Tingginya biaya ONH (Ongkos Naik Haji), beratnya medan, repotnya perjalanan dan manasik serta hambatan lainya tidak membuat niat seseorang  itu surut haji, termasuk mereka yang sudah pernah berangkat kesana. Rata-rata jamaah haji jika Tanya apakah ia suatu saat ingin kembali ke Tanah Suci, jawabanya, “Tentu” padahal, bisa jadi, ia selalu mabok ketika naik kendaraan. Dengan bersusah payah ia pergi dan menunaikan ibadah haji. Hanya rahmat Allahlah yang dirindukanya. Seperti disampaikan Rasulullah saw, dalam Hadits Qudsi dimana Allah mengatakan kepada para malaikat-Nya tentang mereka yang pergi haji di hari Arafah,
Lihatlah hamba-hamba-Ku! Mereka dating kepada-Ku, maka Aku bersaksi kepadamu bahwa Aku telah mengampuni mereka..” (HR Ahmad dan Ath-Thabrani)
Tanah suci memang memberikan pengalaman spiritual tersendiri bagi tiap orang. Semua pengalaman di Tanah Suci adalah indah dan tidak terlupakan. Meskipun  capek dan melelahkan tapi kegembiraan dan kebahagiaan selama disana direngkuhnya. Kalaulah ada kesempatan tiap tahun berangkat pasti seseorang akan melakukanya. 
Memang, haji merupakan suatu kewajiban yang ditentukan dalam agama. Haji merupakan salah satu pilar dalam islam. Rasulullah saw , melalui sabdanya yang terkenal mengatakan, 
Islam itu didirikan atas lima sandi, yaitu persaksian bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan Shalat, menunaikan Zakat, Haji (kebaitullah) dan puasa pada bulan Ramadhan..”(HR Bukhari Muslim)
Karena merupakan sandi agama, bagi seseorang yang sudah mampu berhaji, ia harus segera melakukanya. Allah berfirman,
….. mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Mahakaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam..”( Ali Imran: 97) 
Dalam hadits dikatakan bahwa haji harus segera dilakukan jika sudah mampu, sebelum datangnya kesulitan. Rasulullah saw bersabda,
“Bersegeralah berhaji-yakni haji yang wajib- sebab sesungguhnya seseorang tidak mengetahui apa yang akan menimpanya..” (HR Ahmad)
Barang siapa yang ingin berhaji, maka hendaklah dia melakukanya dengan segera. Boleh jadi nanti ia sakit, kendaraanya hilangdan ada keperluan baru..” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)
Dan bagi mereka yang sudah mampuh menunaikan ibadah haji namun tidak segera atau enggan melakukanya maka Rasulullah saw, memberikan ancaman,
Barangsiapa yang telah memilki bekal dan kendaraan lalu ia tidak berhaji maka bila mati, ia mati sebagai orang Yahudi atau orang Nasrani..” (HR at-Tirmidzi) 
Bagi mereka yang menunaikan ibadah haji secara benar dan ikhlas, Allah pun member ganjaran yang luar biasa. Seperti halnya puasa Ramadhan, mereka yang menyandang haji mabrur akan diampuni dan dihapuskan dosanya yang telah lalu serta diberi” Hadiah” surge Allah di akhirat kelak. Demikian sabda Nabi saw.
tidak ada suatu haripun, dimana manusia lebi banyak dibebaskan dari neraka daripada hari Arafah. Dan bahwa Allah mendekat kepada mereka lalu membangga-banggakan kepada mereka kepada malaikat-malaikat-Nya.. “ (HR Muslim)
Barangsiapa haji dan kemidian dia tidak rafats (berkata-kata kotor/ jirok) dan tidak berbuat fasik (melakukan kemaksiatan) maka dia kembali seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya.. “ (HR Ahmad, Bukhari, Nasa’I dan Ibnu Majah)
Haji yang mabrur itu tidak ada balasan yang lain baginya kecuali surga..” (HR Bukhari dan Muslim)
Namun demikian, dengan semakin semarak dan ramainya orang menunaikan ibadah haji, perlulah kita secara jamaiyah melakukan introspeksi diri. Setiap tahun jamaah haji semakin meningkat. Ini patut kitasyukuri karena menunjukan peningkatan ekonomi dan kesadaran beragama makin bertambah. Dan ketika haji, diri dan jiwa digembleng di Tanah Suci agar menjadi orang yang bertakwa. Tapi seiring dengan banyaknya haji yang pulang dari Tanah Suci, Nampak pula penambahan kemaksiatan ditanah air. Makin hari kemaksiatan makin transparan, meningkat jumlahnya dan kualitasnya. Apakah karena banyaknya haji “Tomat”, disana tobat sampai disini maksiatnya kumat? Wallahu a ‘lam
Padahal apabila kita membaca sejarah (sejarah) Nabi, perjuangan dakwah Rasulullah saw, dalam menegakan islam mendapatkan titik kemenangan karena jasa orang-orang yang menunaikan ibadah haji. Pak haji dan Bu hajah itulah yang membuka kemenangan bagin dakwah Islam. Ketika Rasulullah saw sedang mengalami tekanan yang sangat keras dari kaum kafir Qurais di Mekah, datang bantuan kaum Anshar, dari Yatsrib (Madinah) sebanyak enam orang. Mereka orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji di Mekah dan mendapatkan dakwah dari Rasulullah saw. Kemudian mereka kembali kemadinah dan memberitahu kaum yang lain agar menerima menerima dakwah Rasulullah saw, membela dan menjadikan tempat mereka Hijrah Rasulullah saw bersama para sahabatnya. Akhirnya tercatat dalam sejarah, mereka kaum Anshar membaiat (berjanji setia) kepada Rasulullah yang peristiwa itu dikenal dengan nama Baiatul Aqobah (aqobah adalah suatu tempat berupa bukit yang terletakdiantara Mina dan Mekah). Merekalah bersama kaum muhajirin menjadikan islam Berjaya. Begitu sampai dimadinah Rasulullah saw, mengumumkan dakwahnya keseluruh Dunia sampai Islam sampai kepada kita sekarang. Begitu besar jasa mereka, sehingga pertolongan mereka menjadi titik balik kondisi dakwah islam waktu itu. Dengan kata lain, keberhasilan dakwah Nabi sa, yang akhirnya berkembang keseluruh dunia, salah satu factor utamanya adalah jasa dari kaum Anshar Madinah yang telah menunaikan ibadah haji
Bagaimana dengan Pak dan Bu Haji yang sekarang kembali ketanah air? Bagaimanakah peranan mereka dalam dakwah islam di tempat masing-masing? Apakah mereka seperti kaum Anshar yang membantu dan melindungi Nabi menyebarkan agamaislam? Syogyianyalah demikian. 
Seorang Haji atau Hajah tatkala kembali ketanah air selain harus bisa memperbaiki diri dan keluarga, ia juga harus aktif dalam bidang kegiatan keislaman dilingkunganya. Bahkan ia harus bisa menjadi motor penggerak bagi aktifitas dakwahislam ditempat tinggal maupun dilingkungan kerjanya.  Ia harus bisamemberikan warna islam disetiap ia berada, dikantor, dipasar, dijalan maupun dirumah. Ia membantu, mendorong dan berperan aktif dalam kegiatan keislaman dilingkunganya., baik secar Ialangsung maupun dukungan secara materi.  Dengan seperti itu maka akan terlihat nyata kehajian seseorang. Ia benar-benar menjadi haji yang mabrur dan layak mendapatkan surga-Nya. 
Sedangkan bagi haji yang ria’, menggunakan dana haram untuk berangkat, disana hanya tidur, shoping dan mengerjakan rukun-rukun atau wajib-wajib saja, banyak mengeluh dan melepaskan diri dari perbuatan rafats dan fasik, maka hajinya tidak akan diterima, ia bukan haji mabrur dan taidak termasuk yang diberi janji mendapatkan surga,meskipun orang menggelariinya “Pak Haji”.
Oleh karena itu, kita menyadari bahwa pergi haji membutuhkan effort, usaha yang tidak mudah. Biaya mahal, tenaga terkuras, berasa was-was berada disana maupun keluarga yang ditinggalkan dan sebagainya. Apabila seseorang melaksanakan ibadah haji tanpa menjalaninya dengan benar, sunguh saying. Kalau ibadah puasa Rasulullah saw menyatakan banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga,  artinya orang tersebut rugi. Lebih rugi lagi ibadah haji. Tanpa Ilmu dan persiapan mental yang baik maka bisa jadi ibadah hajinya akan sia-sia. Apalagi jika terdapatpamrih didalamnya seperti ingin menjadi orang yang terpandang. 
Untuk itu, langkah awal bagi seseorang yang ingin menunaikan ibadah haji adalah mencari Ilmu dan belajar mengenai apa-apa yang berkenaan dengan ibadah haji tersebut. Mulai dari manasiknya sampai perjalananya. Kadang seseorang lupa menyiapkan mansik haji tapi lebihsibuk (rebyek) dengan urusan perjalanan. Mereka menyiapkan segala keperluan selama 40 hari berada di Tanah Suci. Namun mereka tidak begitu peduli mengenai hukum-hukum dan esensi (Hikmah) yang terkandung dalam ibadah haji.  Semestinya adalah 80% persiapan dilakukan untuk memperdalam ilmu mengenai mansik haji, sisanya adalah persiapan untuk traveling (perjalananya). Memang tanpa persiapan perjalanan yang matang bisa Jadi ibadah disana terganggu. Tapi bukan berarti seseorang focus persiapanya hanya kepada perjalananya saja. 
Dengan persiapan manasik, yang salah satunya dengan membaca buku ini, insya Allah haji kita mabrur. Semoga kita bisa melaksanakan ibadah haji, umroh termasuk ziarah didalamnya sesuai apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dengan demikian maka haji kita tidak akan ditolak,. Haji kita insy Allah mabrur. Aamiin

0 komentar:

Post a Comment