.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

RASULULLAH PUN SANGAT CINTA KEPADA MEKKAH


umroh murah 2013
Kabah dalam lukisan
     Rasulullah SAW lahir dan di besarkan di Makkah. Beliau menjalankan kehidupan di Mekkah  selama kurang lebih 53 tahun. Lalu atas perintah Allah SWT, beliau hijrah (berpindah) ke Madinah bersama kaum muslim. Sesungguhnya betapa berat bagi beliau meninggal Mekkah, karena beliau sangat mencintai Mekkah.
     Beliau harus meninggalkan Mekkah dan pindah ke Madinah, karena orang-orang kafir di Mekkah memusuhi beliau, menentang seruan beliau kepada agama Allah, mengusir beliau dari Mekkah, bahkan hendak membunuh Rasulullah SAW. Maka Allah SWT memerintahkan beliau agar hijrah (berpindah) ke Madinah.
     “dan ingatlah ketika orang-orang kafir Quraisy memikirkan tipu daya terhadapmu, untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya mereka. Dan Allah adalah sebaik-baiknya pembalas tipu daya..” (QS. Al-Anfaal :30). diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah SAW berada di bukit bernama Khazwarah, beliau bersabda, “Demi Al

lah, sesungguhnya engkau (Makkah) adalah bumi (negeri) yang paling baik dan paling dicintai di sisi Allah SWT. Seandainya aku tidak di usirdarimu (Mekkah), pasti aku tidak meninggalkanmu..” (Diriwayatkan dari ibnu Umar bin Adiy bin Abil Humra, dikutip dari ‘Atiq bin Ghaits al-Biladi).
umroh murah 2013
     Juga diriwayatkan bhawa pada saat pembebasab kota Mekkah, Rasulullah SAW berdiri di atas bukit Hajun, lalu bersabda “Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah sebaik-baiknya bumi Allah, dan sesungguhnya engkau adalah negeri yang paling dicintai Allah. Seandainya aku tidak di usir darimu, niscaya aku tidak akan meninggalkanmu.” (Diriwayatkan dari ibnu Umar bin Adiy bin Abil Humra, dikutip dari ‘Atiq bin Ghaits al-Biladi).
     “Ketika Rasulullah SAW akan berangkat ke Madinah, beliau memandang kea rah Baitullah, lalu bersabda, “ sesungguhnya aku tahu bahwa Allah SWT tidak membangun sebuah rumah (tempat beribadah kepada Allah) di bumi, yang lebih dicintai-Nya darimu (Baitullah). Sekiranya aku pergi, maka kepergianku bukan karena enggan (tidak suka) kepadamu, melainkan karena mereka (orang-orang kafir) mengusirku..” (Dikutip dari ‘Atiq bin Ghaits al-Biladi)
     Istri Rasulullah SAW, Aisyah ra. Mengungkapkan kecintaanya terhadap Mekkah, dengan berkata, “seandainya tidak ada hijrah, niscaya aku tetap tinggal di Mekkah. Sesungguhnya aku belum pernah melihat langit begitu dekat dengan bumi selain di Mekkah. Hatiku belum pernah merasakan ketentraman selain di Mekkah. Dan aku belum pernah melihat bulan  pada suatu tempat, yang lebih indah dari yang aku lihat di Mekkah..” (diriwayatkan dari Ibnu Najih, dikutip dari al-Azraqy, Akhbar makkah)
     Adalah suatu hal yang sangat lazim, jika kita sangat mencintai seseorang, lalu suatu ketika kita terpisah jauh darinya, maka pasti akan sangat merindukan yang di cintai itu. Demikianlah Rasulullah SAW sangat mencintai Mekkah, sangat mencintai Baitullah. Dan ketika beliau berada jauh dari Mekkah, beliaupun sangat merindukan Makkah yang sangat dicintainya itu.
     Diriwayatkan bahwa seorang lelaki bernama Ashil al-Ghifary dating dari Mekkah, lau Aisyah ra. Bertanya kepadanya, “Wahai Ashil, bagaimana keadaan Mekkah sekarang?” Ashil menjawab, “Aku melihat sekarang Mekkah telah subur wilayahnya, dan telah menjadi putih sungainya”. Aisyah berkata “Duduklah dulu wahai Ashil, tunggulah sampai Rasulullah datang.”. setelah Rasulullah dating, beliau bertanya, “Wahai Ashil, bagaimanakah keadaan Mekkah sekarang?”
     Ashil menjawab, “Aku melihat mekkah sekarang telah subur wilayahnya, telah putih sungainya, telah banyak idzkhir-nya (sejenis pohon), telah lebat rerumputannyadan telah ranum salam-nya (sejenis tanaman yang biasa dipakai untuk menyamak kulit).” Rasulullah pun bersabda, “Cukuplah wahai Ashil, jangan kau buat kami bersedih” (Dikutip dari al-Azraqy, Akhbar Makkah)
     Ibnu Ummi Maktum pernah memengang kendali unta Rasulullah SAW, lalu ia mendengar Rasulullah berucap, “Betapa indahnya lembah Makkah, disanalah bumi dan sahabatku. Disanalah tertancap pancangku. Dan disanalah aku berjalan sendiri tanpa seorangpun menunjuki.” (Dikutip dari ‘Atiq bin Ghaits al-Biladi).

0 komentar:

Post a Comment