.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

IBADAH HAJI : Kitab Suci Bicara Ibadah Haji

paket urmoh 2013
umroh 2013


 
Ibadah haji merupakan ibadah yang sudah lama disyaratkan. Jauh sebelum  lahir Nabi Muhammad saw. Dari ayat suci Al-Quran, hadits Nabi saw, dan sirah Rasulullah saw kita dapat mengetahui bahwa kaum-kaum terdahulu juga melaksanakan ibadah haji. Seperti halnya puasa, Allah telah memerintahkan kaum terdahulu untuk melaksanakanya. Dalam Al-Qur’an dikatakan,
Hai Orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa..” (Al-Baqoroh : 183)
paket urmoh 2013
IBADAH HAJI 
Disini kita dapat pahami bahwa orang-orang terdahulu, artinya sebelum umat Muhammad juga melakukan ibadah haji. Dari sejarah kita dapat dengan mudah mengetahui bahwa ketika Rasulullah saw. Sedang berdakwah di Mekah ada beberapa rombongan kafilah haji yang datang untuk berhaji. Bahkan kalo membaca sejarah lebih dalam, kakek Rasulullah yaitu Abdul Muthalib termasuk salah satu penjaga atau pengelola ka’bah yang salah satu tugasnya adalah adalah melayani jamaah haji yang datang kemekah. Ini artinya sudah ada  ibadah haji sebelum Rasulullah mendakwahkanya.
Didalam Al-Quran kita juga mengetahui ada surah bernama al-Fiil yang menceritakan kejadian sebelum Rasulullah lahir dimana tentara Raja Abrahah al-Asram dari San’a (Yaman) menyeburbu  ka’bah dengan tentara gajahnya. Lalu Allah menghancurkan tentara Abrahah dengan burung ababil yang membawa batu panas. Mengapa Abrahah menyerbu Mekah? Karena ia tidak menginginkan orang-orang setiap tahun menunaikan ibadah haji ditempat itu. Ia ingin orang-orang berhaji ditempat yang dia bangun disebelah istananya. Jadi, orang-orang yang berhaji sudah ada sejak sebelum Rasulullah lahir.


Salah satu ayat tentang haji juga menunjukan hal itu, yaitu ketika turun ayat mengenai sa’i, Allah berfirman,
“Sesungguhnya Shafaa dan Mawa adalah sebagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumroh, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Barangsaiapa yan mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungghnya Allah maha mensyukuri bebaikan lagi maha mengetahui.
Sebab turunnya ayat ini ( asbabun nuzul) adalah para sahabat Nabi SAW. Merasa khawatir perbuatan sa’I yang diperintahkan Allah menyerupai prilaku orang-orang jahiliyah yang sebelumnya juga melakukan sa’I. orang jahiliyah biasa mengusap berhala bernama “isaf” dibukit shafa dan “na’ilah” dibkit marwa ketika sa’i. kemudian Allah menegaskan dengan menurunkan ayat ini sehingga melenyapkan kekhawatiran kaum muslimin, hal ini menunjukan sebelum islam datang, kaum jahiliyah melaksanakan ibadah haji meskipun tercampur dengan aktivitas syirik seperti mengusap dan menyembah berhala.
Ibadah haji pertama kali disyariatkan ketika zaman Nabi Ibrahim. Di dalam Al-Qur’an banyak sekali dibahas mengenai kisah Ibrahim dalam kaitannya dengan ibadah haji. Allah ber firman :
“dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji (ujian terhadap Nabi Ibrahim a.s diantaranya : membangun ka’bah, membersihkan ka’bah dari kemusyrikan, mengorbankan anaknya Ismail, menghadapi raja Namrudz dan lain-lain) Tuhannya dengan beberapa kalimat ( perintah dan larangan), lalu brahim menunaikannya. Allah berfirman : “sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia, ‘ibrahim berkata,’(dan saya mohon juga) dari keturunanku’ ( Allah telah mengabulkan doa Nabi Ibrahim a,s., karena banyak diantara rasul-rasul itu adalah keturunan Nabi Ibrahim a,s) Allah berfirman :”janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.”
Ayat ini berhbngan dengan haji,salah satunya menurut pendapat Ibnu Abbas adalah tafsir Ibnu Katsir, karena ujian Allah kepada Nabi Ibrahim dalam ayat tersebut yang dimaksud adalah manasik haji. Kita tahu bahwa ibadah haji sebagian besar merupakan peristiwa napas tilas Nabi Ibrahim beserta kelarganya, mulai dari thawaf, sa’I, dan melempar jumrah, bentuknya adalah ujian kerena Nabi Ibrahim mendapatkan ujian yang sangat berharga di dalam hidupnya yang diabadikan dalam peristiwa haji. Umat islam pun sekarang dapat merasakan “ujian” yang sama tatkala memunaikan ibadah haji.
Dan (ingatlah), ketika kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman dan jadikanlah sebagai maqam Ibrahim (ialah tempat berdiri Ibrahim diwaktu membuat Ka’bah) tempat shalat. Dan telah kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang I’tikaf, yang ruku’ dan sujud,” (al-Baqoroh :125)


Baitullah adalah tempat yang aman. Oleh karena itu, meskipun ketika jahiliyah orang mudah rampas-merampas barang orang, namun jika masuk Baitullah maka iaakan merasa aman. Baitullah sampai saat ini menjadi tempat berkumpul manusia yang melakukan haji dan umroh. Mereka terutama berkumpul mengitarinya dengan melakukan thawaf dan kemudian shalat dua rokaat dibelakang makam Ibrahim. Di hadapan Baitullah inilah orang-orang menyucikan dan mentauhidkan Allah, membersihkan diri dari unsure-unsur syirik melalui thawaf, I’tikaf, dan shalat.
Dan ingatlah, ketika Ibrahim meninggalkan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), Ya Tuhan Kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui..” (Al-Baqoroh: 127)
Disini kita mengetahui bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang berjasa untuk membangun kembali Ka’bah. Merekalah yang meninggikan bangunan tersebut (artinya sebelumnya sudah ada tapi tida berupa bangunan) sehingga terlihat berbentuk Ka’bah seperti sekarang meskipun waktu itu masih sederhana. Dihadapan Ka’bah Baitullah inilah kemudian Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail berdoa memohon keridhaan Allah. Doa ini kemudian diikuti oleh Nabi-nabi selanjutnya termasuk Nabi Muhammad saw. Dan kita umatnya. Kita ketika memohon kepada Allah datang atau menghadap Baitullah.
“Dan (ingatlah), ketika kami memberikan tempat kepada Ibrahim ditempat Baitullah (dengan mengatakan), janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah RumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan beribadah dan orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang ruku dan sujud.” (al-Hajj:26)
Ketika ibadah haji dan umroh kita akan merasakan kentalnya nuansa tauhid. Disetiap saat kita bertalbiyah, dimana inti bacaan talbiyah adalah pentauhidan. Ini adalah janji Allah yang akan senantiasa menjadikan rumah-Nya menjadi seci, terutama bagi orang-orang yang thawaf dan shalat disana.
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendari unta yang kurus (unta yang kurus menggambarkan jauh dan sukarnya yang ditempuh oleh jamaah haji) yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (al-Hajj:27)
Sungguh luar biasa. Inilah inilah bukti Mukjizat Al-Quran Al-Qur’an. Salah satu ayatnya mengatakan bahwa umat manusia akan datang ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji meskipun berat. Kita sudah menyaksikan hal itu. Misalnya kakek nenek kita waktu itu pergi haji harus berbulan-bulan dengan pakaian lusuh. Itupun belum tentu sampai dan kembali ke Tanah air. Mereka bersusah payah memenuhi seruan Allah pergi haji. Saat inipunkita bisa menyaksikan jamaah haji dari beberapa Negara datang berjalan kaki, wajah dan pakaiannya lusuh. Mereka semata mata ingin menunaikan rukun islsam yang kelima. Demikian pula jamaah dari tanah air terutama yang dari desa. Mereka bersusah payah mengumpulkan uang setelah bertahun tahun bekerja. Akhirnya dana terkumul dan berangkatlah mereka pergi haji. Kita bisa menyaksikan betapa usaha yang mereka lakukan untuk pergi haji cukup berat. Itulah gambaran yang diberikan Allah mengenai manusia yang mendatangi Baitullah. “supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah di tentukan (hari yang ditentukan adalah hari raya haji dah hari tasyrik, yaitu tanggal 10,11,12,dan 13 dzulhijjah). atas rizki yang Allah berikan telah memberikan kepada mereka berupa binatang ternak (yang dimaksud dengan binaang ternak disini ialah binatang yang termasuk jenis onta, lembu,kambing dan biri biri). Maka makanlah sebagian daripadanya dan ( sebagian lagi ) berikanlah untuk dimakan orang orang yang sengsara dan fakir.”(alhaj : 28)
"Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang dimaksud dengan menghilangkan kotoran disini ialah dengan memotong rambut,mengerat kuku dan sebaginya) yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar nazar mereka (yang dimaksud dengan nazar disini ialah nazar nazar yag baik yang akan dilakukan selama ibadah haji.) dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu ( Baitullah). “(alhaj : 29).
“demikianlah (perintah Allah), dan barang siapa mengagungkan apa apa yang terhomat disisi Allah ( maksudnya antara lain ialah bulan haram (bulan dzulkaidah, dzulhijjah,muharam dan rajab), tanah haram ( mekkah) dan ihrom), maka itu adalah lebih baik baginya disisi tuhannya dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang telh di terangkan kepadamu keharamanannya.maka jahuilah olehmu berhala berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan perkataan dusta (alhaj :30)
Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengannya. Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah olah jatuh dar langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ketempat yang jauh..” (alhaj:31)
Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.." (alhaj :32)
            "Bagi kamu pada binatang-binatang hadyu  itu ada beberapa manfa'at, sampai kepada waktu yang ditentukan, kemudian tempat wajib (serta akhir masa) menyembelihnya ialah setelah sampai ke Baitul Atiq (Baitullah).." (alhajj :33)
Dari ayat diatas dalam surat alhajj jelaslah perintah Allah mengenai ibadah haji. Mulai dari niat haji pada bulan Syawal, pelaksanaan haji itu sendiri dan dan berkurban. Dalam prosesi haji tersebut, jamaah haji diwajibkan untuk mentauhidkan Allah dan membuang jauh jauh perbuatan syirik. Itulah inti pebuatan haji.
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.
            Namun demikian, meskipun ibadah haji merupakan ibadah yang sudah di syariaatkan sejak lama, yaitu ketika zaman nabi Ibrahim a.s dan dilanjutka kepada umat umatnya setelahnya, namun perintah haji untuk kaum muslimin betul betul datang dari Rosulullah. Bersumber dari Alqur’an dan Al hadist.bukan sekedar meneruskan tradisi kaum beragama terdahulu. Sebab dalam kaidah ushul dikatakan, “ syar’an man qablana laisa syar’an lana”. Syariat sebelum kita, bukan syariat buat kita. “ artinya, meskipun banyak ibadah kaum kaum sebelum islam sama dengan islam namun itu bukan syariat islam. Syariat islam adalah semua yang dicantumkan didalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi saw . dalam hal ini, perintah tersebut diperbarui didalam ajaran islam, termasuk ibadah haji.
            Allah memerintah haji kepada kaum muslimin dalam firman-Nya,
            “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia, ialah baitullah yang di Bakkah (mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. “(Ali Imran: 96)
            Ka’bah adalah bangunan pertama yang ada dimuka bumi.menurut riwayat bangunan tersebut didirikan para Malaikat untuk melakukan thawaf dimuka bumi. Bangunan tersebut ditinggikan. Dari Nabi Adamlah bangunan Ka’bah mulai pertama kali dijadikan tempat peribadatan. Dilanjutkan nabi-nabi berikunya seperti nabi adris dan nabi nuh. Ketika Allah menghancurkan umat Nabi Nuh dengan menenggelamkan mereka, bangunan Ka’bah ikut hancur. Ka’bah diperbarui dengan dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail seperti disebutkan didala surat al-Baqoroh 127. Dari situ kemudian untuk seterusnya Ka’bah menjadi tempat peribadatan manusia hingga akhir zaman.
            “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata (diantaranya) maqam Ibrahim; barang siapa yang memasukinya (Baitullah) menjadi amanlah dia;  mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa yang mengingkari, maka sesungguhnya Allah mahakaya dari semesta alam.” (Ali Imron: 97)
            Pada ayat diatas dikatakan bahwa haji merupakan kewajiban bagi seluruh manusia, bagi mereka yang sanggup melakukanya. Maksudnya adalah mereka yang telah mampu baik secra fisik maupunmateri. Bagi penduduk Indonesia,  perjalanan haji tergolong mahal sehingga hanya bisa dijangkau biayanya oleh kalangan menengah ke atas saja. Itulah perintah haji yang secara eksplisit isebutkan Allah dalam kitab Suci Al-Quran.
            Sementara perintah haji secara tersirat banyak terdapat didalam Al-Qur’an. Misalnya tentang sa’I tentang hadyu (binatang sembelihan), tentang bulan haji, tentang berniaga dimusim haji dan sebagainya. Tata cara dan aturan yang disampaikan Allah dalam ayat-ayat ini ada kalanya merupakan perintah khususnya pada kaum muslimin, adakalanya pula peribadatan itu pernah dilakukan kaum terdahulu namun perintahnya di perbaharui. Misalnya tentang sa’I, Allah berfirman, 
“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumroh, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqoroh: 158)
Mengenai miqat zamani atau batas waktu niat berhaji Allah menurunkan ayat dengan menggunakan bab perhitungan bulan. Dengan mengetahui bulan sabit maka seseorang bisa memulai kapan ia harus niat haji. Frman Allah,
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” Al-BAqoroh : 158)
Masih tentang miqat zamani, yaitu niat haji pada bulan-bulan haji, Allah menyuruh jamaah haji untuk menjaga diri perbuatan rafats (porno dan jorok, baik dalam perbuatan maupun perkataan) seperti ayat selanjutnya Allah berfirman,
haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah- bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal..” (Al-Baqoroh: 197)
Sementara itu, didalam ibadah haji diperbolehkan untuk berdagang. Musim haji adalah musim panen bagi pedagang. Hal itu diperbolehkan hanya saja apabila telah bertolak menuju Arafah maka kita disuruh banyak-banyak berzikir. Pesan itu tertuang didalam firman-Nya,
“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam  Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. “ (al-Baqarah: 198)
Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak ('Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-Baqarah: 199)
Allah juga berpesan agar dzikir itu dilakukan terus menerus meskipun prosesi Haji telah selesai. Dzikir dalam hal ini termasuk berdoa. Doanyapun Allah ajrkan sekalian, mana yang baik dan mana yang buruk. Jika hanya berdoa untuk manfaat dunia tanpa manfaat akhirat maka doa tersebut tidak berguna. Firman Allah,


Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendo'a: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat..” (al-Baqarah: 200)
Untuk itu, Do’a harus dipruntukan bagi dunia dan akhirat. Do’a ini sangat terkenal dikalangan kaum muslimin karena memjadi penyudah atau penutup segala Do’a (Sebelum membaca solawat tentunya), disebut dengan Do’a “Sapu Jagat” Do’a ini lazim dibaca jamaah haji ketika sedang thawaf yaitu ketika posisi berada diantara Rukun Yamani dan Hajar Aswad.
“Dan di antara mereka ada orang yang bendo'a: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka"  (Al-BAqoroh: 201)
Seringkali ditambahkan dengan “ wa-adkhilnal jannata ma’al abrar, ya aziz,nya ghaffar, ya rabbal ‘alamiin. Dan masukanlah kami kedalam surga bersama orang-orang yang yang berbakti, wahai Dzat yang maha perkasa, maha pengampun dan Tuhan sekalian alam. Allah akan berikan padahal yang banyak dan cepat bagi mereka yang berdoa seperti itu, bagaimanapenjelasan ayat selanjutnya,
Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (Al-Baqoroh: 202)
Allah juga menyuruh kita melakukan dzikir yaitu membaca takbir, tahmid, talbiyah dan sebagainya pada hari-hari tasyriq (11.12 dan 13 Dzulhijah) baik bagi mereka yang melakukan nafar awal (yaitu pulang dari mina kemekkah pada tanggal 12 Dzulhijah) atau nafar tsani (yaitu pulang dari mina kemekkah pada tanggal 13 Dzulhijah). Ayatnya berbunyi demikian.
Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya. ” (Al-Baqoroh: 203)
Kemudian Allah juga berfirman tentang berburu binatang buruan ketika haji, maksudnya ketika sedang ihram.
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.” (Al-Maa’idah: 1)
Secara lengkap larangan-larangan selama bulan haram atau haji diterangkan dalam ayat selanjutnya.  Allah berfirman,


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Al-Maa’idah: 2)
            Dengan demikian maka ibadah haji memang diperintahkan secara khusus didalam ajaran islam. Bukan karena haji itu sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim. Allah melalui Rasul Nya telah memperbarui  perintah haji didalam al-quran maupun hadits. Istilahnya, “SK-Nya diperbarui.” SK (Surat Keputusan) yang lama sudah tidak berlaku, berganti dengan SK yang baru. Dengan demikian, perintah ini telah menepis tuduhan musuh-musuh islam bahwa ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Merupakan jiplakan dari ajaran agama sebelumnya yaitu yahudi dan nasrani. Sebab perintah ini langsung turun dari Allah kepada Nabi Muhammad. Kalau tidak ada perintah itu, meskipun ajaran ini terus-menerus ada ada sebelumnya maka umat islam tidak akan melakukanya. Puasapun demikian, apabila tidak ada perintah puasa di dalam Al-Qur’an maupun sabda Nabi, maka umat islam tidak diwajibkan melaksanakanya meskipun kaum terdahulu melakukanya.
            Meskipun garis besarnya sama, perintah dalam ajaran islam pun unik. Secara rinci berada dengan ajaran lain. Misalnya dalam puasa, puasanya orang islam berada dengan puasanya orang yahudi dan nasrani, juga tentang menikah. Ada syarat menikah, tapi dalam islam tidak diperkenankan, misalnya mengumpulkan dua istri yang masih satu mahram. Sementara dalam  ajaran Nabi Musa diperkenankan mempunyai istri dua kaka beradik. Demikian pula haji, ada beberapa ritual atau manasik yang berbeda dengan ajaran yang sebelumnya. Jadi, pada dasarnya ada kesamaan, namun islam telah memperbaharui ajaran itu sehingga ada beberapa hal.
            Dan saat ini, ibadah haji di agama lain pun sudah tidak ada, sudah dihapuskan. Sebab, tidak diperkenankan lagi orang-orang non muslim untuk memasuki tanah haram. Sebagaimana firman Allah,
            Artinya” Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya orang yang musrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati masjidil haram sesudah tahun ini dan jika kamu kehawatir menjadi miskin maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karunianya, jika dia menghendaki. Sesungguhnya Allah maha mengetahui dan maha bijaksana.”
(QS. At-Taubah : 28)


            Ulama Hambali dan Atha berpendapat bahwa maksud Masjidil Haram pada ayat tersebut adalah Mekah dan Tanah Haram pada umumnya. Pendapat ini selaras dengan sabda Nabi saw. Sebelum beliau wafat yang menyuruh kaum muslimin untuk mengeluarkan kaum Yahudi dan Nasrani dari Tanah Haram. Beliau bersabda,
            Artinya” Keluarkanlah orang-orang Yahudi dan Nasrani dari bumi tanah Arab.” (HR Abu Daud dan Abu Ubaid dan lain-lain)
            Artinya, haji adalah milik umat islam. Kita sebagai seorang muslim wajib mensyukuri bahwa Allah telah menetapkan Ibadah Haji khusus bagi umat islam dengan berbagai hikmah yang terkandung didalamnya. Ibadah haji adalah sebuah anugrah dari Allah kepada umat islam yang sangat besar manfaatnya, baik individu maupun umat islam secara keseluruhan. Siapa hati tidak tergetar menyaksikan jutaan umat manusia dengan pakaian yang sama tertuju disatu titik yaitu ka’bah. Prosesi haji adalah sebuah kekuatan yang dapat menggetarkan lawan. Hanya saja saat ini kekuatan itu belum berwujud secara nyata dan dimanfaatkan umat.
Bahkan dalam sejarah kemerdekaan, para hujjaj (jama dari haji) Indonesia mempunyai peranan penting dalam membangkitkan semangat kemerdekaan. Pada saat mereka melaksanakan ibadah haji mereka bergaul dengan jamaah lain. Mereka semakin menyadari tentang posisi mereka sebagai rakyat yang dijajah oleh nonmuslim. Maka setelah mereka kembali ketanah Air, semangat jihad mengusir penjajah bangkit dan menggelora. Sehingga penjajah pada waktu itu berusaha mempersulit  ibadah haji tersebut.


             Saat ini manfaat haji baru bisa dilaksanakan individu-individu muslim atau beberapa kelompok. Suatu saat nanti, Allah akan menunjukan kekuatan umat ini melakukan ibadah haji, seperti yang pernah dilakukan dahulu, kekuatan tersebut mampu membangkitkan islam, menolong Rasulullah saw, menyebarkan da’awah dan menyebarkan islam keseluruh penjuru dunia. Insaya .Allah


umroh 2013
travel umroh
umroh paket
travel haji
paket umroh
umroh travel
tour umroh
umroh tour
perjalanan umroh

0 komentar:

Post a Comment