.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Lima Ciri Pendengar yang Baik untuk Anda ketahui

Lima Ciri  Pendengar yang Baik untuk Anda ketahui


Lima Ciri  Pendengar yang Baik untuk Anda ketahui. Tugas pendidik bukan hanya berbicara. Anda perlu terlebih dahulu memahami permasalahan objek didik Anda. Dan, untuk melakukannya, Anda harus menguasai kemampuan “mendengarkan”.

Sayangnya di negara kita, kemampuan listening ini belum maksimal dikembangkan, terutama di lembaga-lembaga pendidikan, sehingga banyak SDM yang tidak memilikinya. Hal ini mungkin menyebabkan kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih suka berbicara, kerap memotong pembicaraan, dan merasa ide atau omongan orang lain tidak penting. Akibatnya kita mengalami kebuntuan perkembangan dan kehilangan skill yang dipandang penting.

Sebagai pendidik, kemampuan mendengarkan itu amat sangat penting. Bukan hanya dalam rangka menghargai objek didik yang ingin mengutarakan masalahnya, tapi juga dalam memahami masalah yang dilontarkan dan menemukan jawaban yang tepat. Selain itu, dengan mendengarkan, seorang pendidik bisa lebih kaya. Mendengarkan orang lain berbicara berarti mengizinkan diri kita sendiri untuk mendapatkan informasi, punya waktu untuk memahami pola pikir, karakter, sekaligus mengesankan kita “tertarik” dengan gagasan objek didik—yang berarti menunjukkan padanya bahwa kita menghargai eksistensinya sebagai manusia utuh. Mendengarkan secara efektif pun sangat membantu dalam membangun hubungan, memecahkan masalah dan konflik, mengembangkan akal dan rasa percaya diri.

Oleh karena itu, penting bagi pendidik untuk berlatih menjadi pendengar yang baik. Bagaimana caranya?

Pertama, fokus mendengarkan gagasan, bukan sibuk menyusun balasan. Banyak dari kita “mendengarkan” tidak dengan ikhlas. Kita diam bukan untuk mendengarkan, tapi memikirkan jawaban atau cara bertutur yang pas untuk membalas. Akibatnya kita kehilangan keuntungan-keuntungan dari mendengarkan. Besar kemungkinan kita juga salah memahami ide orang lain, memancing debat dengan melempar persepsi yang salah, dan dianggap tidak kompeten dalam pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan solusi. Dengarkanlah dengan jujur. Pahami baik-baik. Soal balasan yang Anda harus berikan setelah orang lain berbicara, tidak usah khawatir. Sebab Anda akan tahu harus bagaimana setelah memahami apa yang ia pikirkan.

Frank Bettger, yang mana seorang pakar marketing, berkata, “Aku tidak lagi memikirkan bagaimana caranya menjadi seorang yang ahli dalam percakapan. Aku hanya perlu menjadi seorang pendengar yang baik. Aku perhatikan bahwa pendengar yang baik biasanya diterima dengan baik ke mana pun mereka pergi.”

Kedua, bersabar dan tidak memotong pembicaraan. Saat objek didik sedang mengungkapkan pikirannya, sangat sering kita merasa sudah paham ke mana arah pembicaraan dan maksudnya. Kita pun terpancing memotong pembicaraan. Sebagai informasi, ada banyak sekali kesalahan yang Anda investasikan bila benar-benar melakukannya. Secara etika, Anda terkesan tidak menghormati objek didik Anda. Anda juga bersikap sok tahu, padahal belum tentu demikian maksudnya. Contohnya ada kalimat, “Saya tidak ingin mendengarkan perkataan Anda hari ini, tapi saya amat sangat ingin mendengarkannya esok, lusa, dan setiap harinya.” Jika Anda memotong sebelum kata “tapi”, makna dan perasaan apa yang muncul di kepala Anda? Pastinya tidak sama bila Anda membiarkan lawan bicara menyelesaikannya hingga akhir kalimat.

Ketiga, atasi semua permasalahan yang merusak kestabilan pikiran dan perasaan. Bagaimanapun, setiap pendidik harus bisa mengendalikan dirinya untuk siap dalam memberikan pelayanan. Semua hal yang bersifat pribadi ditahan, sehingga jika ada kritik atau masukan dari objek didik dipahami sebagai bentuk input perbaikan. Tidak perlu merespon feedback objek didik secara emosional. Oleh karena itu, sangat penting untuk tetap “tersenyum” dan menjaga diri terhadap pikiran negatif.

Keempat, tidak tergesa menyimpulkan.
ujuan aktivitas mendengarkan adalah mendapatkan informasi baru. Anda tidak akan mampu mendapatkan apa-apa jika terlalu terburu-buru menafsirkan sesuatu tanpa membuka pikiran. Bukalah diri kita untuk “menerima” point of view orang lain. Bila kita berhasil melakukannya, sesuatu yang awalnya tidak terlihat menarik, bisa terlihat “wah” dan penting. Sebagai manusia, kita dibekali kemampuan berpikir hampir empat kali yang lebih cepat dari apa yang sedang orang lain ucapkan. Pakailah skill ini untuk menyimpulkan gagasan utama apa yang hendak disampaikan objek didik.

Kelima, perhatikan lingkungan Anda
Tak bisa dipungkiri bahwa lingkungan sangat besar pengaruhnya bagi manusia. Dan itu berarti lingkungan mampu mengubah dan memberikan efek lebih besar pada diri kita ketimbang kapasitas kita sendiri. Semakin baik lingkungannya, semakin baik pula kita. Begitu pula sebaliknya.

Siapkah Anda jadi pendengar yang baik? Anda sendiri yang harus membuktikannya. 
[diolah dari berbagai sumber] 

0 komentar:

Post a Comment