.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hati-hati dengan Riya! (2)

Hati-hati dengan Riya! (2)
Syekh Izzuddin bin Abdussalam –rahimahullah- mendefinisikan riya’ dengan membandingkan dengan sum’ah seraya mengatakan, “Riya’ adalah beramal (melakukan kebajikan) untuk selain Allah. Sedang sum’ah adalah menyembunyikan amal atau perbuatan untuk Allah, kemudian menceritakannya kepada orang lain” (Fathu’l Bari, Ibnu Hajar XI/336).
Definisi lain mengatakan, riya’ adalah seorang muslim mempertontonkan amal shalih di hadapan orang banyak dengan tujuan mengharapkan kedudukan atau dunia.
Sementara Al Qadhi Iyadh –rahimahullah- mengatakan, “Meninggalkan amal perbuatan demi manusia adalah riya’. Beramal karena manusia syirik. Dan ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya” (Tahdzib Madaarij Ash Shalihin, hal. 515).

Allah swt mengawali pesan-pesan spiritual-Nya dalam ayat tersebut dengan memanggil orang-orang yang beriman dengan An Nida’ Al Habib (panggilan mesra), “Yaa Ayyuhalladziina Aamanuu”. Hal ini memberikan pemahaman kepada kita, bahwa kejujuran keimanan seseorang mendorongnya untuk tidak menghilangkan (pahala) beragam kebaikan, termasuk sedekahnya dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima). Ia sadar betul, bahwa mengungkit-ungkit kebajikan diancam oleh Nabi saw –dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim – dengan dijauhkan dari surga dan tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat. Keimanannya kepada Allah menjadikannya selalu beramal dan berbuat kebajikan didasari ikhlas karena Allah dan bukan karena riya’ kepada manusia.
Berbeda sekali, ketika hati kosong dari iman dan dipenuhi oleh riya’. Dalam kajian tafsir Sayyid Quthb –rahimahullah – orang yang riya’ tidak akan dapat merasakan denyut dan secercah iman sebab telah tertutup oleh riya’. Hati yang semacam ini diumpamakan seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Maka, terkuaklah kerasnya batu itu, meski telah disiram hujan, ia tetap tidak menumbuhkan tanaman dan tidak menghasilkan buah. Begitu pula dengan hati yang berinfak karena riya kepada manusia, maka tidak akan membuahkan kebaikan dan menghasilkan pahala (Fi Zhilal Al Qur’an, I/303).

Karena itu, pantaslah kalau riya’ adalah sifat dan karakter orang-orang munafik sebagaimana firman Allah swt, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS An Nisaa’ [4]: 142).
Sifat negatif yang ada pada seseorang bukanlah bawaan dari lahir, melainkan karena ada faktor-faktor pemicunya. Demikian pula dengan riya’, kemunculannya didorong oleh banyak sebab. Di antara sebab-sebab riya’ adalah lingkungan keluarga dan didikan sejak kecil, pengaruh teman yang buruk akhlaknya, tamak, ambisi terhadap jabatan dan popularitas, dan tidak mengenal Allah dengan baik.
Penyakit hati yang juga dikenal dengan sebutan “Syirik Ashghar” (syirik kecil) ini tidak berarti tidak bisa dibasmi dan diobati. Sebab, setiap penyakit pasti ada obatnya, termasuk riya. Di antara obat riya adalah:
Mengenal Allah lebih mendalam, menjauhi teman-teman yang dikenal sebagai orang yang suka riya’, meningkatkan komitmen terhadap nilai-nilai-Islam, sering mengingat dampak-dampak negatif riya baik di dunia maupun di akhirat dan lain-lain, selain tentu dengan do’a, meminta perlindungan Allah swt dari virus ganas ini seperti biasa dilakukan oleh para ulama salaf.
 [diolah dari ummi-online.com]

0 komentar:

Post a Comment