.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Inilah yang Merugi Dunia-Akhirat 1

Inilah yang Merugi Dunia-Akhirat 1
Inilah yang Merugi Dunia-Akhirat 1

Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia[maksudnya, tidak beriman kepada pembangkitan di hari Kiamat, hisab dan pembalasan], maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok." (QS Al Kahfi [18]: 103-106)

Harta, jabatan, rupa, gelar, popularitas dan segala pernak-pernik dunia serta kuantitas amal tak jarang memperdaya banyak orang. Sehingga muncullah egoisme, ujub (membanggakan diri sendiri), merasa paling baik, hebat, shalih dari orang lain. Menganggap diri sendiri "The Best".
Boleh jadi ia memang “The Best” di mata kebanyakan manusia. Namun, apakah juga ia termasuk orang yang paling hebat, bahagia dan shalih di sisi Allah swt?
Ayat di atas gamblang mengungkap, ada orang—termasuk keluarga, organisasi, partai, jama'ah atau bangsa—yang terperdaya dirinya sendiri, merasa telah banyak berbuat kebaikan sehingga menganggap dirinya "The Best". Namun, ternyata di sisi Allah pada hari kiamat kelak termasuk golongan paling merugi.

Menakar Untung Rugi dengan Neraca Ilahi
Ketika Allah swt berfirman, "Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya", maka ayat ini memberi kita pemahaman bahwa neraca dan timbangan untung-rugi bukanlah berdasarkan penilaian hawa nafsu atau pandangan kebanyakan orang. Melainkan, harus diukur dan ditakar dengan neraca Allah.
Seseorang secara subyektif dapat saja menilai dirinya telah melakukan banyak kebajikan. Namun, ternyata Allah memvonisnya termasuk "orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini". Karenanya, takaran yang benar dalam mengukur untung-rugi, bahagia-sengsara serta baik-buruk adalah neraca Allah, yang absolut kebenarannya.

Siapakah Manusia yang Paling Merugi?
Tentang siapa yang paling merugi perbuatannya dalam ayat tersebut, terdapat beberapa pandangan para sahabat dan ulama.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Mush'ab bin Sa'ad, ia berkata, "Aku bertanya kepada ayahku (yakni Sa'ad bin Abi Waqqash ra) tentang firman Allah, "Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?", apakah mereka itu Al Haruriyah, (yakni kelompok Khawarij)? Dia menjawab, "Tidak. Mereka adalah kaum Yahudi dan Nasrani. Adapun orang-orang Yahudi (disebut paling merugi) karena mereka telah mendustakan Muhammad saw. Sementara orang-orang Nasrani (disebut paling merugi) karena mereka mengkufuri surga sambil mengatakan tidak ada makanan dan minuman di dalam surga. Al Haruriyah adalah orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh. Dan Sa'ad (yakni ibnu Abi Waqqash) menamakan mereka dengan sebutan orang-orang fasik." (HR Bukhari, no. 4359)
Sementara Imam Ibnu Katsir (Lihat Tafsir Ibnu Katsir III/329) mengutip pendapat Ali bin Abi Thalib ra, Dhahhak dan lain-lain, bahwa mereka (yang paling merugi yang dimaksud dalam ayat tersebut) adalah Al Haruriyah (Khawarij).
[diolah dari ummi-online.com]

0 komentar:

Post a Comment