.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Asal Mula Perayaan Ulang Tahun - Ustad Ismail Menk



Islam adalah agama yang telah kita pilih, yang datang dari Allah.
Jika dunia ini mengatakan sesuatu sementara Allah punya perkataan yang lain, mana yang lebih penting? Tentu saja apa yang dikatakan Allah.
Jika seluruh dunia melakukan sesuatu, sementara kita di beritahu hal itu tidak sesuai dengan agama, semestinya tidak ada rasa berat dalam hati kita untuk mengatakan, “Ya Allah jika aku mati hari ini aku sadar bahwa islam telah menjadi pilihanku, dan aku mengetahui segala aturanmu.
Sangatlah sulit berbicara pada hari ini, karena kita hidup di dunia yang sekuler. Terkadang mereka mempermasalahkan hal kecil yang ada padamu dan membesarkannya yang sebenrnya bukanlah masalah, seolah-olah mereka tidak menyadari bahwa kita pun percaya punya hak memilih, entah itu muslim atau bukan, namun faktanya ketika memilih islam kita tidak merasa bebas mempraktekannya.
Kamu tidak bisa mengatakan, “Sepertinya islam perlu di modifikasi.” Kalau begitu bilang saja dirimu islam modifikasi. Jika ada yang tanya apa kamu muslim? Bukan, saya muslim modifikasi, jadi orang bisa kenali, tapi kalau kamu menyebut dirimu muslim, maka engkau harus berserah diri.
Mungkin ada orang-orang yang berkata, “Kenapa bisa bicara seperti itu? Ini bukan pendapat pribadi saya, anak-anak saya selalu ingin pergi ke acara ulang tahun dan sebagainya.
Saya dudukan mereka dan beri penjelasan, “kalian tahu apa makna lilin yang ada dalam perayaan ulang tahun? Pada masa Eropa kuno, ketika terjadi cuaca buruk pada musim dingin, orang-orang biasanya mengurung diri, dan memakai apapun yang bisa menjaga tubuh mereka tetap hangat, dan jika mereka keluar rumah artinya Mati. Kalian tahu itu? Mereka hitung jumlah yang mati, dan untuk merayakan orang yang selamat dari musim dingin, amal datang ingin membunuh kita dalam bentuk cuaca dingin, karena masih bertahan hidup maka kita perlu meniup lilin sebagai tebusan jiwa kita. Mereka menaruh beberapa lilis sesuai usia mereka dan meniupnya agar menjadi tebusan. Kita yakin bahwa itu merupakan kebobrokan yang terjadi di abad pertengahan eropa. Dan itu berasal dari budaya setan.
Tapi orang hari ini berkata, “Apa salahnya hanya meniup lilin? Tapi engkau tidak menyadari bahwa itu seperti ritualnya orang-orang Pagan (penyembah berhala).
Hari ini orang-orang menjadikannya tradisi dan mempraktekannya dalam berbagai momen, seperti valentine dan sebagainya.
Memang apa salahnya, kenapa kalian melarang orang menunjukan kasih saying?
Kita telah di bodohi dengan keyakinan tertentu yang menghendaki diadakannya perayaan besar-besaran, tak sadar bahwa engkau semakin dekat dengan kuburmu, atau bertambahnya tanggung jawab di pundakmu. Saya tidak mengatakan engkau tak boleh berdoa agar Allah memberkahi usiamu saat usia bertambah, tapi yang perlu di perhatikan adalah:
Pertama, kita punya kalender Hijriyah.
Kedua, tradisi seperti ini jauh dari nilai-nilai islam.
Islam datang dari Allah bukan dariku, bukan darimu. Jika ikuti keinginan masing-masing maka kita akan merayakan karena anak-anakku pun berkeras ingin melakukannya. Namun kita harus berusaha memahamkannya kepada mereka, dan menceritakan asal mula tradisi ini. Yang menyedihkan adalah semua orang melakukannya:
Tapi kok dia juga melakukannya? Padahal dia ustadz
Sangat menyedihkan kita hidup di zaman:
Orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api. (HR. Tirmidzi).
Kalian bisa temukan keluarga yang di kenal religious tapi mereka melakukan perayaan besar-besaran dsb sesungguhnya dalam islam hal itu tidaklah di benarkan, Wallahu a’lam.
Banyak hal lebih penting yang bisa kita lakukan selain itu, kita bisa mengadakan acara di momen yang berbeda bersama-sama, merayakan hal lain yang tidak meniru tradisinya kaum pagan.
Semoga Allah ta’ala memberkahi anak-anak kita.


0 komentar:

Post a Comment